Maryam

Saat kecil aku senang sekali bermain dengan Maryam. Kulitnya pucat, rambutnya pendek dan selalu memakai gaun putih yang sangat memukau. Tapi.. terkadang aku selalu bingung terhadapnya. Ia selalu mengajaku bersamanya entah mengapa. Tapi setidaknya aku telah mendapatkan teman yang benar – benar baik. Tak seperti keluargaku setidaknya.. Namun waktu teruslah berjalan hingga aku beranjak 13 tahun. Aku akhirnya paham. Terkadang kita tak bisa memilih keduanya.

Bel sekolah pun berbunyi menandakan waktunya masuk. aku bergandengan tangan bersama  temanku yaitu Siti, tertawa sambil menuju kelas. tak lama kemudian suara langkah kaki berbunyi. “Selamat siang semuanya hari ini kita akan belajar tentang bencana alam dan  berbagai cara untuk mencegahnya. tolong catat dan setelah itu kita presentasi” Semua murid dengan wajah kesal akhirnya terpaksa mengeluarkan buku catatanya.

Aku berada di sini lagi. Gelap tak ada cahaya sekalipun. dan aku tahu ia akan datang. ” Kemarilah.. dan kau akan bahagia bersamaku. bermain sebagai teman dan tak ada yang menyaingiku” Ya aku tahu suara siapa itu. “KAU TIDAK NYATA. MENGERTI!?. Sekarang aku berbeda. pergilah dari duniaku dan jangan kembali!!. Semua akhirnya terang dan aku terbangun. masih berada di kelas. dan berada di pelajaran yang sama.

Setelah pelajaran – pelajaran yang membuatku mengantuk. Akhirnya aku pulang. hari ini aku dan Siti berjanji untuk pergi berjalan bersama ke mall dan berbelanja ria.

TO BE CONTINUED…………….

 

 

Advertisements

Keindahan Pantai Belitung

Aku berada di suatu pantai yang terletak di Belitung. Di sana ada beberapa perahu. Aku ingin menaiki sebuah perahu. Sementara adikku, nenekku dan tanteku tidak ingin menaiki perahu karena takut. Jadi, aku hanya bertiga dengan ibu dan ayahku.

Kami pun menaiki perahu nelayan. Ada dua orang nelayan yang mendampingi kami selama perjalanan. Kami menuju ke Pantai Lengkuas. Di sana ada bangunan yang sangat tingi. Ya, benar itu adalah mercusuar. Lalu kami menaiki mercusuar yang tinggi itu. Dari ketinggian aku melihat laut yang luas dan biru, pasir yang putih dan berkilau disinari matahari, dan masih banyak lagi. Setelah kami puas di atas kami turun dari mercusuar. Saat kami turun, awan gelap menutupi langit dan angin bertiup agak kencang menghembuskan udara dingin di pinggir pantai. Kami cepat-cepat menuju ke beberapa warung kecil. Kebetulan kami lapar sehingga kami makan dulu saja. Tidak lama kemudian dari langit air menetes sedikit demi sedikit lalu bertambah deras. Setelah kami menghabiskan tiga mangkuk pop mie, tidak ada lagi air turun dari langit. Lalu kami bersantai dan berenang.

Aku segera menuju pinggir pantai. Wow! Menakjubkan! Ada air laut yang dikelilingi bebatuan besar, jadi seperti kolam renang tetapi airnya asin. Saat aku berenang aku melihat sesuatu, ternyata itu adalah sebuah batu kecil yang berbentuk aneh.

Di sana juga banyak kerang. Aku bergegas mengumpulkan kerang yang banyak untuk membuat hiasan yang cantik.

Kami sudah terlalu lama di sini, kata ayahku setelah ini kita akan snorkling. Dari pulau Lengkuas kami melanjutkan perjalananat untuk snorkling. Saat tiba di tengah laut (tidak terlalu tengah) ombaknya tidak terlalu besar,  jadi cocok untuk snorkling . Saat giliranku tiba, aku langsung turun dari perahu. Saat itu aku takut, lalu aku memberanikan diri untuk melihat ke dasar laut. Walaupun hanya 2 atau 3 detik, aku tetap bisa melihat keindahan di balik permukaan air laut.

Subhanallah…sungguh menantangnya petualangan saat itu.

Last Smile

Karya: Nayra

Namaku Helena. Aku hanya tinggal dengan ibuku, ayahku meninggalkanku pada hari ulang tahunku yang ke-6. Ia meracuni ibuku. Aku sedih sampai sekarang. Karena ia sakit parah. Aku tak bisa apa-apa. Ayah mengambil semua uang yang ada di dalam rumah.

SetiapSetia aku titip ibu kepada nenek atau bibi. Setiap aku pulang dari sekolah aku melihatnya tersenyum dan aku mendengarnya berkata ” Jangan tinggalkan ibu seperti itu lagi, Henry.” Henry adalah kakakku yang ikut dengan ayah yang kemudian dibuang oleh ayah, entah di mana.

Aku sering dikucilkan oleh teman-temanku. Mereka mengejekku dan menghinaku seperti apa yang dikatakan ayah ke ibu.

Kadang ibu sering mendadak pingsan lalu bangun lagi. Tapi hari ini ia tidak membuka matanya walaupun ia masih bernafas. Akhirnya aku meninggalkannya dengan nenek.

“Segeralah pulang, nenek punya firasat buruk.” kata Nenek. Aku hanya mengangguk dan mengambil tasku. Di sekolah teman-temanku tetap mengolok-olokku, tapi aku hiraukan saja. Aku teringat tragedi malam itu saat ia pergi.

“Hero, engkau kenapa?!” teriak Ibu pada Ayah.

“Kamu yang kenapa?!” teriak Ayah balik.

“Berhenti!!!!!!!” teriak Nenek dari sisi ruangan.

“Hero, engkau yang kenapa?!, bukan Hailey!” teriak nenek mendekati Ayah.

“Ibu?, kenapa ibu ada di sisinya?!” tanya ayah setengah marah.

“Karena kamu memarahi dan memukul anakmu sendiri!” teriak nenek balik.

Aku mendengar percakapan mereka. Nenek memang benar. Aku melihat ke kakiku yang setengah hilang. Aku agak sedih.

Aku pulang dari sekolah. Rumah sudah sepi. Aku melihat surat dari  nenek yang berkata.  “Cepat ke RS Wailey Bay”.

Aku bergegas. Saat aku sampai aku melihat namaku ibuku di sebelah rumah sakit dengan bunga bertebaran. Aku menangis dan mengingatnya tersenyum. “RIP Hailey Teressa Emily”

Hal yang memalukan

Karya : Amanda

Pada suatu malam mamaku memanggilku untuk makan malam bersama keluargaku. Setelah selesai makan malam aku masuk dan berdiam di dalam kamarku. Entah kenapa saat itu aku berpikiran untuk aku tidur malam hari ini karena besok adalah hari libur. Saat itupun juga aku langsung memasang alarmku, dan mengaturnya untuk berdering pada pukul 8 pagi.

Tidak terasa setelah aku melepas ponselku aku baru sadar kalau saat ini sudah menunjukkan pukul 2 malam. Saat itu juga aku langsung berbaring di atas ranjangku dan menutupi badanku dengan selimut yang hangat.

Keesokan paginya aku sudah bosan mendengar alarmku yang sudah bunyi berkali-kali. Tapi aku tidak bisa membuka mataku pagi ini, karena semalam aku sangat susah tidur. Akhirnya saat itupun juga aku langsung memejamkan mataku kembali.

Tiba-tiba alarmku kembali berdering dan aku melihat alarmku sudah menujukkan pukul 9 pagi. Saat itu aku langsung berdiri dari ranjangku dengan rambut yang masih berantakan. Tapi saat aku keluar dari kamarku aku melihat banyak orang yang sudah duduk di sofa ruang tamuku. Raut wajah mereka kelihatan menahan ketawa saat melihat aku dengan rambut yang berantakan dan masih memakai baju piyama. Disitulah aku merasa sangat malu dengan diriku sendiri.

Kodok Ngeselin

Karya: Aufa

Pada hari Minggu aku dipilih untuk ikut bertanding sepak di daerah Sentul. Pada hari itulah aku merasa ada keanehan dalam hatiku. Dalam perjalanan menuju tempat pertandingan aku merasa tidak enak dalam hatiku. tetapi aku santai saja meski perasaanku tidak enak.

Aku bertanding 3 kali. Pertandingan pertama tidak ada peristiwa memalukan dalam lapangan, meskipun diguyur dengan kekalahan sadis. Pertandingan kedua tidak ada hal mengerikan atau yang membuat jantungku berdebar-debar hanya saja kembali diguyur dengan kekalahan. Pertandingan ketiga adalah pertandingan yang sangat menyenangkan karena laga tersebut dipenuhi dengan cuaca hujan yang sangat deras dan tidak lupa dibumbui petir dan angin kencang.

Tepat saat aku Mengontrol bola dengan dadaku. Aku melihat di sebelahku ada kodok yang sedang menatap aku. Akhirnya aku langsung menendang bola ke gawang aku sendiri karena aku ketakutan dengan kehadiran kodok. Aku langsung tegang dan pura-pura tidak ketakutan. Pertandingan pun berakhir dan kembali di diguyur dengan diguyur pembataian sadis!!!!!!!!!!!!!!

Beginilah ceritaku yang paling memalukan dan itu adalah hari yang paling sial bagiku. Sebelumnya aku juga pernah bertanding di lapangan itu. Aku juga sangat terkejut karena banyak sekali pohon beringin yang tidak hanya neng kunti atau pocong tetapi ada juga kodok yang tinggal di itu. Biasanya aku melihatnya di lubang pohon tersebut maka dari itu karena aku sering melihat kodok tersebut di lapangan aku bertanding jadi beri nama kodok itu ngeselin. Karena memang kodok itu ngeselin!!!

 

Salah Panggil Orang

Kriiinggg… bel bertanda waktunya istirahat sudah berbunyi. Murid-murid di sekolah SD Al Azhar bubar keluar dari kelasnya. Aku merasa lapar jadi aku menuju ke kantin. Saat di kantin aku menemui adikku yang bernama Azka sedang mencari tempat duduk untuk makan. Karena sngat ramai kami duduk di sebelah guru lalu kami mencuci tangan kami dulu.

Saat aku mencuci tangan aku terburu-buru karena aku melihat Azka sudah selesai mencuci tangan dan meninggalkan ku. Saat aku menemui Azka dan bercerita dengannya aku bingung “mengapa dia tidak menuju tempat duduk kami” kataku dalam hati. Beberapa detik kemudian seperti ada yang menyolek ku. Karena aku sudah sering di colek-colek teman adikku yang ber nama Dhandi jadi aku biarkan saja. Tetapi dia mencolek-colek ku terus aku pun melihat ke belakang dan aku terkejut “mengapa ada adik ku di belakang” kataku. Aku segera mendekat ke Azka,lalu Azka bertanya”tadi kakak bicara apa sama teman adik” lalu aku menjawab “tidak hanya menanyakan namanya” (aku berpura-pura). Lalu kami makan bersama tetapi aku masih memikirkan hal tadi yang memalukan sekali.

 

 

Perjuangan ku Menuju Sekolah

Aku bernama Made, aku selalu bangun dipagi hari untuk menuju ke sekolah. Setelah itu aku sarapan dengan nasi dan satu buah tempe goreng , aku tidak terlalu kenyang tetapi aku tetap semangat menuju ke sekolah. Karena kemarin hujan, jalanannya cukup banyak genangan air. Diperjalanan aku bertemu beberapa temanku. Tidak lama kemudian kami melalui rintangan yang berbahaya bagi kami, yaitu melewati sungai yang kira-kira 200 meter. Aku melihat dari kejauhan ada seekor buaya yang mendekati kita. Aku memanggil teman-temanku dan memberi tahu jika ada buaya yang mendekati kita. Kita semua ketakutan karna buayanya semakin dekat. Aku melihat ranting pohon yang cukup panjang. Aku segera mengambil ranting kayu itu dan melempar ranting itu ke buaya. Saat aku melemparkan ranting itu, mulut buaya terbuka lebar dan ranting itu menyangkut di mulut buaya. Buaya itu tersandung batu dan terbawa arus air yang cukup kencang. Teman-temanku bergembira. Kami melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan selamat.